Erom Febri Subiyakto, warga Kupang Panjaan VII/2 Surabaya, ditangkap anggota Polsek Tegalsari, Selasa (30/1), karena membobol brangkas di TP. FOTO SP/Robert

Ada fakta mengejutkan dari sosok pelaku pembobolan brankas di Miniso Tunjungan Plasa (TP) 6 lantai 3 Surabaya. Fakta itu terungkap setelah Polsek Tegalsari menangkap dan menginterogasi pelaku. Betapa tidak, uang dalam brankas senilai Rp 71,2 juta itu habis tidak sampai satu bulan. Ibarat uang jin dimakan setan, pelaku hanya memegang uang sisa Rp 300 ribu saat ditangkap. Bahkan, HP iPhone X seharga Rp 19 juta yang dibelinya, sudah lenyap terjual. Lantas, kemana larinya uang sebanyak itu?
----------------------
Laporan : Narendra Bakrie, Editor : Ali Mahfud
----------------------

Pelaku pembobolan brankas itu disergap pada Selasa (30/1/2018) sekitar pukul 08.30 Wib. Pelaku disergap saat keluar dari sebuah hotel di Jalan Kedungsari Surabaya. Pembobol brankas itu ternyata masih berumur 21 tahun. Dia bernama Erom Febri Subiyakto, warga Jalan Kupang Panjaan Gg. VII/2 Surabaya. Dan dia merupakan mantan karyawan toko aksesoris Jepang tersebut.

Lantas mengapa Febri tidur di hotel? Padahal rumahnya cukup dekat dengan hotel tersebut. Pengakuan Febri bakal membuat banyak orang menggelengkan kepala. Bayangkan saja, selama pelariannya pasca membobol brankas 31 Desember 2017 dini hari lalu, Febri tidur dari hotel ke hotel maupun kos-kosan harian. Dan, selama dia hidup di penginapan itu, sudah 15 wanita ia tiduri.

"Ya itu, uangnya saya buat sewa wanita malam. Kurang lebih 15 wanita. Sekali kencan, saya membayar wanita itu Rp 3 juta. Selebihnya saya buat minum miras (minuman keras) di kafe dan bar," aku Febri dengan lantang di Mapolsek Tegalsari. Selain itu, Febri membeli HP iPhone X senilai Rp 19 juta. Namun HP itu sudah dijualnya kembali.

Tersangka Terus Tertawa
Memang, sepanjang dikeler penyidik ke meja Polsek Tegalsari, remaja penuh tato di dada dan kaki kiri ini nampak terus tertawa. Tak ada rasa takut dan penyesalan sedikit pun dari dia. Bahkan saat ditanya sejumlah wartawan, Febri membusungkan dada dengan kepala tak sekalipun menunduk. "Saya sudah niat berbuat jahat. Buat apa saya takut. Menyesal juga tidak ada gunanya," ucap Febri lagi.

Tapi, di balik gagah dan sikap liarnya. Ternyata Febri memiliki cerita kelam dalam kehidupannya. Menurut informasi internal kepolisian, Febri berasal dari keluarga berada. Namun, ayah ibunya berpisah (broken home) sejak dirinya masih duduk di bangku SD (sekolah dasar). Di rumah Jalan Kupang Panjaan Gg. VII/2 Surabaya itulah, Febri biasa tinggal bersama ibu, adik dan kakek neneknya.

Teman-teman Febri sekampung bahkan jarang bercengkrama dengan Febri. Sebab saat menginjak sekolah tingkat atas, yaitu SMK jurusan tata boga, Febri menjadi pendiam dan lebih sering di dalam rumahnya. Febri sering pulang larut malam bahkan dini hari pasca dirinya lulus SMK. Sejak itulah, sosok Febri menjadi misterius bagi warga sekitar.

Dan 6 bulan lalu, Febri akhirnya bekerja di Miniso TP 6 tersebut. Namun, misteri tentang sosok Febri, akhirnya membuat warga kaget dan tak percaya. Betapa tidak, tanggal 5 Desember 2017 lalu, dia dilaporkan telah menggelapkan yang Miniso sebesar Rp 150 Juta. Dan terakhir, sosok pelaku pembobolan brankas yang terekam CCTV milik TP itu, ternyata Febri.

Dikenali dari Sepatu dan Jaket
Sementara itu, Kapolsek Tegalsari, Kompol David Triyo Prasojo membeberkan jika pencarian dan perburuan terhadap Febri sudah dilakukan dalam dua minggu terakhir. Perburuan itu dipimpin oleh Kanit Reskrim, Iptu Zainul Abidin. Perburuan dimulai dari menyamar sebagai teman Febri untuk menyanggong Febri di rumahnya, hingga menanti keluarnya Febri di tempat yang sebelumnya disinyalir menjadi tempat persembunyian Febri.

"Dan Alhamdulillah, tadi pagi kami mendapati pelaku keluar dari hotel. Setelah kami periksa, kami mendapatkan sepatu cat dan jaket yang sama persis dengan ciri-ciri pelaku pada rekaman CCTV. Pelaku akhirnya mengakui perbuatannya," beber Kompol David.

Dari hasil pemeriksaan, pelaku Febri mengaku keluar dari hotel karena sudah kehabisan uang. Uang yang dibawanya hanya tersisa Rp 300 ribu. Febri keluar dari hotel dengan tujuan hendak pulang ke rumahnya untuk meminta sejumlah uang kepada keluarganya. "Jadi, uang Rp 71 juta di dalam brankas yang dicurinya itu, dihabiskan pelaku untuk berfoya-foya dan bermain wanita," sebut Kompol David.

Modus Pelaku
Alumnus Akademi Kepolisian Tahun 2005 ini menambahkan, modus yang digunakan Febri dalam beraksi yaitu, Febri membawa nota pengambilan barang. Nota itu dicurinya dari toko tempat kerjanya. Selain itu, Febri menggunakan ID karyawan toko tersebut. Untuk mengelabuhi petugas keamanan mal, Febri akhirnya membungkus brankas yang dicurinya dengan kardus berwarna coklat.

"Nah, untuk mengangkut kardus berisi brankas itu, dia (Febri, red) memesan taxi online. Setelah terangkut, yang bersangkutan minta diantar ke Simo. Dari Simo, dia memesan taxi online lagi untuk diantar ke daerah Gresik," ulas Kompol David.

Di daerah Gresik inilah, Febri akhirnya membuka brankas tersebut dengan cara paksa. Hingga saat ini, penyidik masih berupaya menemukan dimana brankas itu dibuang. Untuk itu, penyidik juga tengah melacak taxi online kedua yang disewa Febri dari Simo menuju daerah Gresik.

"Terima kasih kepada semua pihak yang membantu kami dalam pengungkapan kasus ini. Baik teman-teman sekuriti TP, driver taxi online, dan tentu Tim Anti Bandit kami," pungkas David. n