Ketua Dekranasda Prov. Jatim melihat kerajinan Jawa Timur. (SP/ARF)

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jatim Nina Soekarwo, menegaskan komitmennya untuk membantu pengrajin jawa timuran, diantaranya batik, manik-manik, aksesoris, hingga produk fashion.

Bude Karwo sapaan lekat Ketua Dekranasda Prov. Jatim ini menyampaikan, banyaknya masyarakat yang cinta pada kerajinan. Kecintaan ini kata Bude akan berdampak positif pada pengrajin karena semakin banyaknya alternatif tempat pemasaran produknya. “Semakin besarnya peluang pemasaran bagi pengrajin juga akan mendukung peningkatan ekonomi daerah,” ungkapnya.

Dijelaskan, pertumbuhan ekonomi Jatim saat ini tumbuh secara progresif bahkan lebih tinggi dari nasional. Salah satu faktor yang menjadi penyokong pada pertumbuhan ekonomi Jatim yakni keberadaan UMKM.

Bahkan sektor UMKM mampu menyumbang 54,98% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim. Selain itu, dengan semakin banyak UMKM maka akan mengurangi jumlah pengangguran yang ada di Jatim.

“Hal ini harusnya bisa membuat kita makin optimis, meskipun kondisi ekonomi nasional lesu namun daya beli masyarakat Jatim masih sangat bagus,” terang Bude Karwo yang juga istri Gubernur Jatim.

Lebih lanjut disampaikan, Provinsi Jatim merupakan provinsi yang cukup besar yang terdiri dari 38 kab/kota dan masing-masing memiliki produk unggulan. Bahkan, beberapa tahun lalu khusus untuk batik, Jatim telah mendapat rekor MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) dengan motif batik terbanyak yaitu 1.120 motif.

“Saat ini jumlah motif batik Jatim telah mencapai 1300, dan ini tentunya semakin memperkaya kerajinan Jatim,” imbuhnya.

Pada kesempatan sama, Bude Karwo juga berpesan pada para pengrajin, agar bidang kerajinan dan fashion bisa terus maju maka perlu dilakukan modernisasi industri. Dengan demikian maka proses mulai dari hulu sampai hilirnya bisa didapatkan dengan mudah di daerah. Hal ini penting dilakukan, karena saat ini kendalanya di sisi bahan baku sehingga menyebabkan high cost di sisi produksinya.

Disamping itu, kerjasama antar kelompok pengrajin dengan membangun asosiasi pengrajin, serta dukungan dari pemerintah dan pengusaha juga sangat diperlukan.

“Harapannya proses hulu hilir mulai mendapat bahan baku, proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran bisa diurusi dengan serius,” tukasnya.

Bude Karwo berharap, kehadiran Galeri Ida bisa menjadi alternatif jujugan selain galeri milik Dekranasda Prov. Jatim. Disamping itu, galeri ini diharapkan bisa memberi kesempatan bagi para pengrajin di Jatim untuk menitipkan barangnya. “Semoga galeri ini bisa terus berkembang dan bisa merambah ke nasional hingga manca negara. Kerajinan yang ada disini sangat indah dan harganya sangat kompetitif,” pungkasnya.arf