Calon Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak semua pihak bersama-sama memerangi kekerasan seksual yang terus memakan korban anak-anak salah satunya dengan meningkatkan kepekaan sosial masyarakat.

"Kasus predator dimana pelakunya seorang guru terhadap 65 anak-anak ini merupakan tamparan keras bagi wajah pendidikan dan harus menjadi evaluasi guru dan orang tua mengapa hal ini bisa terjadi hingga kurun waktu yang panjang," katanya Khofifah dalam siaran pres, Rabu (7/3/2018).

Khofifah mengatakan empat tahun adalah waktu yang lama, jumlah korban semakin bertambah, sementara pelakunya berkeliaran dengan bebas di sekolah. Tempat di mana anak-anak seharusnya mendapatkan perlindungan dan kasih sayang selama mereka di luar rumah.

"Ini menurut saya karena kurangnya kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Orang tua, guru, dan anak harus dilibatkan bersama-sama untuk memerangi kekerasan seksual terhadap anak," tegasnya.

Dikatakan Khofifah, orang tua sebagai keluarga inti diharapkan memberi penguatan etika, sopan santun, budi pekerti anak yang harus dimulai sejak masih di dalam lingkungan keluarga.

"Sehingga ketika anak sudah mulai bergaul di luar termasuk di lingkungan sekolah, mereka sudah punya upaya preventif sendiri saat menghadapi "serangan" tindakan asusila. Mereka sudah paham apa yang harus dilakukan dan tidak sampai berlarut-larut apalagi hingga bertahun-tahun," papar ibu empat anak ini serius.

Kemudian kepada para pendidik di sekolah, lanjutnya, pengawasan kepada guru harus ditingkatkan. Guru juga harus lebih peka terhadap perilaku sesama guru. Para pendidik harus sepakat dan berkomitmen bahwa faktor keamanan dan kenyamanan anak-anak di sekolah harus menjadi prioritas.

Khofifah mengatakan sekolah ibaratnya adalah tempat kedua bagi anak-anak setelah rumah. Tempat di mana seharusnya mereka bisa belajar dengan riang gembira bersama guru.

"Maka apabila kejahatan itu terjadi di dalam lingkungan sekolah, maka sekolah itu harus dievaluasi. Dari sisi seleksi guru, pengawasan terhadap guru, dan keamanan siswa. Apalagi sebagian lokasi kejadian adalah di ruang kelas. Ini sungguh kenyataan yang membuat orang tua manapun pasti sangat sedih," terang Khofifah.

Kedepannya, Khofifah berharap kejadian semacam ini jangan sampai terulang lagi. Harus dibangun sistem di mana orangtua, guru, dan anak-anak dan masyarakat sekitar agar kejadian semacam ini tidak terulang.

"Oleh karena itu saya mengajak seluruh pihak mengambil peran dalam upaya memerangi kekerasan seksual anak. Karena pada dasarnya setiap orang adalah orang tua bagi anak-anak kita maka semua pihak harus turun tangan dan berkewajiban dalam melindungi anak-anak dari kekerasan seksual," harapnya.

Ia juga mendorong agar semua pihak berani bersuara bila terjadi hal-hal yang mencurigakan atau mengarah pada kekerasan terhadap anak.

Menurut Khofifah, hal yang menjadi tantangan dalam memerangi kasus kekerasan seksual anak adalah masyarakat yang cenderung permisif, enggan dan takut melaporkan kasus kekerasan seksual ke aparat penegak hukum karena beberapa kasus pelakunya justru orang terdekat yang dikenal anak.

"Mari kita kikis habis ancaman kekerasan seksual terhadap anak. Kita wujudkan lingkungan yang ramah anak, baik di rumah maupun di sekolah. Kita asah dan tingkatkan kepekaan sosial agar anak-anak kita terlindungi. Mereka adalah generasi penerus, mereka adalah wajah bangsa ini di masa yang akan datang. Generasi yang sehat, cerdas dan gembira adalah aset berharga kita," kata Khofifah.

Seperti diketahui Polda Jawa Timur menangkap seorang guru SD berinisial MSH pada Rabu (21/2), yang mencabuli 65 siswanya. Kejahatan MSH terbongkar setelah orang tua salah satu korban melaporkan tindak pencabulan ke Polda Jatim pada Selasa (20/2). Aparat Kepolisian menyatakan berdasarkan penyelidikan awal, peristiwa memilukan ini berlangsung sejak 2013 hingga akhir 2017. (dtk/02)