ilustrasi

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - KONI Jatim mempunyai kriteria khusus dalam memilih pelatih. Mengingat pentingnya posisi pelatih dalam suatu dunia olahraga.

Kriteria pelatih dibagi menjadi dua, yakni kriteria formal dan informal.

Secara formal, seorang pelatih adalah dia yang mengikuti tahapan administrasi pelatih, seperti fit dan proper test serta memiliki sertifikat pelatih.

"Fit & proper test pelatih, meminta sertifikat pelatih untuk formalitasnya," ujar M. Nabil selaku Ketua Harian KONI Jatim.

Sedangkan syarat informal salah satunya adalah dia yang bisa mentransformasikan ilmu kepada atlet.

"Kriteria pelatih ya tentu punya kemampuan skill, dia (pelatih, red) bisa mentransformasikan ilmunya kepada atlet. Dia mampu menularkan sehingga para atlet bisa mengalami peningkatan skill. Keberanian konfidensinya, konsolidasinya. Itu pelatih," tambahnya.

Tidak hanya bisa mentransformasikan ilmu, pelatih juga dituntut bisa menerapkan pola kedekatan kepada atletnya.

"Kemudian transformasi pola kedekatan. Ada kedekatan. Ada perhatian secara humanis pelatih kepada atlet. Kalau hanya skill saja ya susah," ujar Nabil.

Jika pelatih hanya memiliki skill saja, Nabil merasa pesimis, mengingat kebanyakan atlet Puslatda Jatim masih pemula sehingga pendekatan pelatih kepada atlet adalah suatu kewajiban. Oleh karena itu, Nabil lebih suka mengistilahkan the real psycholog is choach.

"Saya suka pakai istilah the real psycholog is choach. Psikolog yang sebenarnya adalah pelatih. Jadi kalau ada keluhan, ada masalah dengan atletnya ya pelatih yang bisa meredam itu ya fungsi pelatih itu. Makanya, pelatih harus multi talenta," ujarnya.

Selain beberapa kriteria yang telah disebutkan, Nabil sapaan akrabnya menganggap jika kriteria pelatih yang terpenting yakni pelatih yang tidak hanya sekedar memiliki skill, bisa memperhatikan atletnya tetapi juga yang mempunyai visi.

"Tapi yang lebih penting lagi, punya visi proyeksi atlet itu mau dapat apa nanti. Titik tekannya disana sebenarnya," jelasnya.

Menurut Nabil, menjadi tidak baik dan bahaya apabila seorang pelatih tidak bisa membuat program. Bahaya jika pelatih tidak bisa menterjemahkan program itu untuk dilaksanakan menuju PON 2020.

Ia mengkhawatirkan pelatih yang tidak punya visi kinerjanya akan parsial. Sehingga hanya menjalankan aktivitas latihan tetapi tidak diketahui progresnya.

"Setiap hari latihan tapi tidak ketemu progresnya apa. Proyeksinya apa," ucapnya.

Dari berbagai kriteria itu, dapat diketahui jika pelatih atlet Puslatda Jatim tidak melulu mempertimbangkan prestasi pelatih saat menjadi atlet. Yang menjadi kriteria pelatih adalah apa yang bisa dia berikan saat menjadi pelatih.

"Tidak melulu mereka yang sukses di atlet, otomatis sukses di pelatih. Ada yang saat jadi atlet emasnya banyak di level nasional ataupun internasional tetapi ketika menjadi pelatih dia tidak bisa. Tidak bisa membuat program, tidak bisa ngemong atlet, tidak bisa memperhatikan perkembangan psikis dan fisiknya atlet. Jadi (prestasi pelatih saat menjadi atlet, red) itu tidak menjadi ukuran," Nabil mengakhiri.lx