Aris Agustinus (paling kanan) saat membacakan puisi di depan Kapolresta Kediri, AKBP Anthon Haryadi. (SP/CAN)

SURABAYAPAGI.com, Kediri - Selalu optimis dan ingin tetap melanjutkan sekolah, serta tidak merepotkan orang lain. Semangat ini dimiliki, Aris Agustinus (19) remaja asal Dusun Pohrubuh, Desa Pohrubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

Usai lulus di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Aris harus rela putus sekolah karena faktor ekonomi kedua orang tuanya. Selain itu, ibunya juga sudah tak sanggup lagi menggendong Aris setiap kali mengantar dan menjemput sekolah. Pasalnya, Aris sejak lahir sudah divonis oleh dokter mengalami gangguan saraf tulang punggung. Akibatnya kedua kaki dan tangannya tidak berfungsi normal layaknya remaja pada umumnya.

Dengan keterbatasannya, ia berharap mendapatkan bantuan dari sejumlah pihak agar dapat kembali meneruskan pendidikannya. Sebab ia memiliki keyakinan jika kemampuannya dalam dunia pendidikan tidak kalah dengan anak normal pada umumnya.

Dalam dunia pendidikan, Aris juga pernah mendapatkan sejumlah prestasi. Ia juara 1 dalam bidang membaca puisi. Bahkan Aris masuk peringkat 10 besar di tingkat Provinsi Jawa Timur dan juara umum di tingkat Kota Kediri.

Prestasi itu semua Aris raih saat dirinya masih duduk di bangku SDLB dan SMP. Namun, semangatnya pupus saat lulus SMP. Kedua orang tua Aris mengalami kesulitan ekonomi, sehingga membuat dirinya tak lagi dapat melanjutkan sekolah.

"Aku pengen sekolah lagi, dan membahagiakan serta membanggakan orang tua," ucap Aris.

Sejak tahun 2015 silam setelah putus sekolah, kesibukan sehari-harinya hanya berdiam diri dirumah dan menghabiskan waktu dengan membaca puisi bersama ibunya.

Aris saat ini tinggal bersama ibu kandung dan ayah tirinya. Aris memiliki impian untuk dapat membahagiakan ibunya dan keluarga, untuk itulah dia ingin memiliki kursi roda agar kesehariannya Aris dapat melakukan segala sesuatu secara mandiri dan tidak merepotkan ibu.

"Saya ingin punya kursi roda, supaya nggak merepotkan ibu kalau mau sekolah dan kemana-mana," ujar Aris Rabu, (7/3/2018).

Kendati dalam kondisi yang serba terbatas namun Aris sempat unjuk gigi dengan membacakan puisi berjudul "Polisi". Dihadapan anggota Babinsa dan Babinkamtibmas Kecamatan Semen yang sering berkunjung dan sekedar menyapa, Aris membacakan puisi tersebut untuk disampaikan kepada Kapolresta Kediri.

Mendengar informasi tersebut dari Bhabinkamtibmas Kecamatan Semen, Kapolresta Kediri, AKBP Anthon Haryadi merasa iba dan ingin menolong Aris agar dapat melanjutkan sekolah. Kamis (8/3/2018) siang, secara mendadak orang nomor satu di jajaran Mapolresta Kediri berkunjung ke rumah Aris.

Di kediaman Aris, Kapolresta Kediri, AKBP Anthon Haryadi langsung bercengkerama dan mendengarkan langsung semangat remaja penyandang disabilitas yang ingin melanjutkan bersekolah tersebut. Anthon merasa kagum saat Aris membacakan puisi yang ditujukan ke Korps Bhayangkara tersebut.

Usai berbincang sekitar satu jam, AKBP Anthon Haryadi memberikan kejutan berupa kursi roda bagi Aris. Bantuan kursi roda tersebut diharapkan bisa membantu Aris agar dapat melanjutkan sekolah tanpa merepotkan orang lain. "Kegiatan ini merupakan kegiatan kemanusiaan. Setelah kita mendapat laporan dari Babhinkamtibmas, kita langsung memberikan bantuan pada remaja penyandang disabilitas agar dapat kembali melanjutkan sekolah lagi," tandasnya.

Selain bantuan kursi roda, Kapolresta Kediri juga memberikan tali asih bagi Aris Agustinus. "Kita ingin cita-cita Aris terwujud. Sebab ternyata Aris juga memiliki sejumlah prestasi dengan keterbatasannya. Setelah ini akan saya tindaklanjuti untuk berkoordinasi dengan SLB untuk bisa melanjutkan ke tingkat SMA-nya," pungkasnya.

Aris lahir dengan kondisi prematur, tepatnya Aris lahir ketika kandungan masih berusia 5 bulan 2 minggu. Pada usia 2 tahun, Sri menyadari kondisi Aris berbeda dengan balita pada umumnya, terutama cara berjalan dan merangkak.

Selanjutnya Aris diperiksakan ke dokter spesialis saraf, namun karena Aris trauma dan ketakutan melihat pakaian putih yang biasa dikenakan perawat, pengobatan dihentikan hingga saat ini. Can