Aris Agustinus Penyandang Disabilitas yang Bisa Bacaa Puisi

SURABAYAPAGI.com, Kediri - Seorang remaja penyandang disabilitas di Kabupaten Kediri terpaksa berhenti sekolah karena terbentur biaya dan tak ada yang mengantarnya ke sekolah. Padahal meski dalam kondisi keterbatasan fisik, dia tetap berprestasi di bidang baca puisi.

Remaja ini bernama Aris Agustinus (17). Dia tinggal di Dusun Petuk, Desa Pohrubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Aris mengalami cacat. Dia tidak bisa berjalan. Kaki dan tangannya kaku untuk digerakkan. Tetapi IQ-nya normal.

Putra sulung Sri Wahyuni ini pernah menyabet juara pertama lomba baca puisi kaum difabel tingkat Kota Kediri. Dia bahkan terpilih mewakili kota kediri di ajang perlombaan tingkat Propinsi Jawa Timur. Aris masuk 10 besar sebagai pemenang.

Tetapi cita-citanya sebagai pembaca puisi top kini kandas. Aris gagal melanjutkan ke sekolah menengah atas, lantaran keluarganya serba pas-pasan. Sang ibu sudah tak sanggup lagi menggendongnya, karena dia tumbuh besar dan berat badannya bertambah.

Selain itu, orang tuanya juga tidak memiliki biaya. Aris pernah sekolah hingga lulus SMP Luar Biasa. Seharusnya dia melanjutkan ke SMALB.

Praktis selama tiga tahun belakangan, dia hanya menghabiskan waktunya di dalam rumah. Aris sebenarnya bukan kategori penyandang cacat yang tak mudah putus asa. Dia tetap belajar membaca puisi. Dan biasanya ia ditemani oleh Bhanbinkamtibmas setempat, Bripka Eko Nur Arianto dan Babinsa setempat Wasis.

Seperti ketika Aris membaca puisi bertema Polisi. Suaranya lantang. Tangannya yang kaku berusaha mengepal. Urat nadi di lehernya tampak. Keringatnya bercucuran. Begitu semangatnya Aris, di akhir bacaan dia menyampaikan rasa terima kasih kepada Polisi yang telah membantu masyarakat.

Aris mempunyai cita-cita yang mulia, yakni, ingin membahagiakan orang tuanya sekaligus membawa nama harum kelurganya melalui baca puisi. Selain itu, dia juga ingin sekali memiliki kursi roda agar mandiri dan tidak membebani orang tuanya.

"Ingin sekolah lagi. Bisa belajar lagi. Dan bisa meraih cita - cita. Bisa membahagiakan ibu saya, orang tua saya dan mengharumkan nama keluarga," aku Aris dengan rasa percaya diri tinggi.

Aris memiliki keterbatasan fisik sejak lahir. Ibunya Sri Wahyuni bercerita, putranya lahir secara prematur diusia kandungan lima bulan dua minggu. Sang ibu baru tahu perbedaan anaknya sejak usia dua tahun.

Ayah kandung Aris pergi setelah menceraikan ibunya. Sejak kecil dia diasuh oleh sang ibu. Bagi Aris sosok Sri Wahyuni, selain sebagai ibu juga sebagai ayah atau kepala rumah tangga. Sri Wahyuni menggendong Aris pergi kemana-mana. Kasih sayangnya begitu tulus.

Tetapi Sri kini menyadari keterbatasan ekonomi keluarga yang membuat Aris tak bisa melanjutkan sekolah, karena suami barunya hanya bekerja sebagai sales keliling.

Aris dan keluarga berharap ada dermawan yang datang ke rumahnya untuk membawakan kursi roda. Aria sangat mengidamkan kursi roda. Dia pernah mencoba kursi roda neneknya sewaktu sakit.

Dengan kursi roda, kata Aris, dia berjanji tidak akan merepotkan ibunya lagi. Aris akan mandiri. Dia bisa pergi kemana saja, termasuk ke sekolah. Tentu saja, Aris berharap ada yang membantu biaya pendidikannya. (bj/04)