Para pemuda di Desa Jatisari yang bahas program pendidikan agrobisnis dan agrowisata untuk kemajuan di desanya.

SURABAYAPAGI.com, Pasuruan – Lahir dan besar di desa dengan basis tradisi pertanian tidak selamanya membentuk generasinya untuk mampu bertani. Kondisi tersebut barangkali sudah menjadi pemandangan lazim di banyak wilayah di Indonesia yang banyak dikenal sebagai negara berkembang. Lajunya pembangunan, sektor pertanian alami penyempitan lahan. Kondisi serupa rupanya juga dialami kondisi Desa Jatisari, Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Meski demikian, desa yang berada di kawasan lereng Gunung Arjuno tersebut, dalam sektor pertanian dan perkebunannya masih bisa diandalkan. Namun masa depan kelestarian bidang pertanian bergantung pada pemudanya. Sehingga salah satu fakta kehidupan masyarakat desa ini bisa dijadikan acuan dalam pengembangan desa yakni Program Pendidikan Agrobisnis & Agrowisata (PADI) di Desa Jatisari.

Desa yang terdiri dari tiga dusun ini sebenarnya mempunyai potensi alam dan tradisi yang bagus. Sayangnya potensi yang ada itu belum dimanfaatkan secara maksimal untuk memajukan Desa. Dalam konteks ini lah Program PADI Averroes menjadi penting adanya. Hal penting dan berharga yang pertama dari Program PADI Averroes adalah mengajak warga (peserta) untuk menyadari kekayaan potensi.

Dari kesadaran ini kemudian berlanjut pada konsekuensi warga terutama para peserta untuk turut berkontribusi dalam membangun Jatisari. Dalam konteks ini, Program PADI Averroes secara bertahap sedikit-demi-sedikit menghilangkan “sekat” ego-sektoral/teritorial. “Sehingga semuanya memiliki progres untuk memikirkan dan mengembangkan Desa Jatisari secara keseluruhan,” tandas Abdul Rosyid, salah satu kelompok Pokdarwis setempat, Minggu (11/3/2018).

Ia mengatakan, program PADI fokus pada urusan Agrobisnis & Agrowisata. Jadi, kata dia, dalam konteks Agrobisnis, di desanya ini sudah ada setidaknya lima rumah produksi makanan (camilan) berbahan dasar dari hasil pertanian (perkebunan), yaitu Produksi Kripik Mbothe, Kripik Pisang, Kripik Tempe, Kripik Singkong, Kripik Dendeng Sayur (Daun Singkong), dan es krim alpukat. “Di sini, keberadaan buah alpukat ini paling melimpah dibandingkan hasil kebun lainnya,” bebernya.

Kedua, lanjut dia, dalam aspek Agrowisata berbasis desa, pihaknya berhasil memunculkan Branding Jatisari sebagai Desa dengan wisata AGROPUKAT. Ikon apukat menjadi salah satu brand desa ini. Output lain adalah munculnya wahana Camping Ground di area Kali Kajar. Sebelumnya area yang sebenarnya tidak jauh dari pemukiman warga tersebut kondisinya sepi, tak terawat, dianggap angker.

“Kami ajak pemerintah desa, dan warga untuk bersih-bersih area aliran sungai dan sekitar Kali Kajar. Sejauh ini sudah dua kali dilakukan simulasi camping dan mendapatkan respon yang positif baik dari warga sendiri maupun pihak luar,” beber Rosyid..

Terbaru, lanjut dia, pihaknya sedang menggagas, Jatisari Seeding Park (JSP). JSP adalah sebuah konsep yang mengemas potensi SDM (Kelompok Tani dan Warga) dan tanaman yang ada menjadi area taman, dan punya muatan wisata. Untuk merealisasikannya, Pokdarwis didampingi Averroes melakukan pembuatan instalasi area, gapura sederhana tapi artistik. Kedua, JSP ini memiliki bahan bambu dan kayu. Instalasi secara bertahap dilanjutkan.

“Di area tersebut paket wisata Agropukat disentralkan. Agropukat adalah wisata edukasi segala tentang apukat, mulai dari penyemaian, seni penyetikan, perawatan, hingga panen. Dalam proses, untuk menunjang paket wisata tersebut, Pokdarwis akan melengkapinya dengan “Pojok Literasi Agropukat.”Semuanya bisa mendapatkan pengalaman dan pembelajaran penting tentang apukat tersebut,” pungkas Rosyid.(rts/04)